Aku Mengerti, Bu!

*Aku Mengerti, Bu!*

Seperti apapun rupa dari orangtua kita, kita pasti menyayangi dan mencintainya. Mereka adalah malaikat yang telah membesarkan kita tanpa pamrih.

Suatu ketika Widi sedang ingin sekali mempunyai smartphone keluaran terbaru. Dia ingin membelinya karena merasa smarthpone yang dimilikinya sekarang sudah terlalu ketinggalan zaman. Kameranya pun kurang memadai untuk ritual selfie-nya.

Dia bingung mau bagaimana. Ingin meminta kepada Ayah tapi takut. Dan akhirnya dia merengek kepada Ibunya.

“Bu, Ibu.” Ucap Widi pelan ke telinga Ibunya yang sedang mencatat sesuatu di buku.
“Iya apa nak, Ibu masih nyatat bahan-bahan buat kue besok nih.”
“Anu. Aku mau beli smartphone yang baru, Bu.”
“Haa? Uang dari mana lagi nak. Ibumu belum punya uang. Ayahmu juga mungkin belum gajian.” balas Ibu dengan perasaan sedih.
“Tapi Bu…” Mata Widi mulai berkaca-kaca.
“Tidak ada tapi-tapian nak. Smartphone-mu sekarang loh jauh lebih bagus dari handphone jadul yang Ibu miliki sekarang nak.”
“Tapi aku mau punya smartphone yang terbaru itu, Bu. Aku malu kalau membawa smartphone ini ke sekolah. Kameranya kurang jernih Bu!” ucap Widi sedikit membantah.
“Sudah, sekarang kamu pakai smartphone lamamu dulu saja. Ibu sama Ayahmu itu capek nak cari uang buat kamu. Kami berdua cuma mau kamu jadi orang yang sukses tidak seperti kami nak! Kalau boleh memilih, kami lebih baik menikmati masa tua kami untuk bersenang-bersenang. Tapi kami ingat kalau kewajiban kami adalah membiayaimu supaya kamu jadi orang yang berguna nak!” ucap Ibu Widi tanpa memerhatikan perasaan anaknya supaya dia sadar.
“Maafkan Widi, Bu. Widi merasa bersalah karena terlalu banyak menuntut.” ucap Widi dengan nafas yang terisak-isak karena air matanya tak bisa dibendung lagi.
“Iya gak apa-apa nak. Maafkan Ibu juga kalau terlalu kasar telah membicarakan ini.” ucap Ibu Widi langsung memeluk anaknya itu.
“Iya Ibu. Sekarang Widi mulai sadar atas apa yang harus aku lakukan sebenarnya.”

Ruang tamu rumah itu sekarang menjadi tempat Widi tersadar atas kesalahannya. Widi sadar kalau hidup itu jangan cuma menuntut hak saja, tapi kewajiban juga harus dilaksanakan. Widi juga bisa mengerti bahwa kita kalau meminta sesuatu itu harus memikirkan keadaan ekonomi orang tua.

2 tanggapan untuk “Aku Mengerti, Bu!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *