Cinta di Pulau Seberang

Ini adalah perjalanan di lingkungan orang lain yang sedikit panjang. Tapi inilah hobiku, inilah jalan hidupku, aku adalah penakluk alam dari salah satu kota kecil di Jawa Timur.

Namaku Novan, tapi aku tidak terlalu suka dipanggil seperti itu. Mungkin aku lebih pantas dipanggil hitam manis.  Semua yang sudah mengenalku pasti tahu, aku itu berkulit sedikit sawo matang, tapi wajahku itu manis walaupun aku adalah penakluk hutan.

Mungkin kau berfikir aku hitam karena terlalu sering pergi ke alam bebas. Itu mungkin tebakan yang terlalu umum, sudah banyak orang menebak seperti itu. Tidak, aku tidak hitam karena terlalu sering terkena pancaran matahari di alam bebas, ini adalah murni hasil keturunan. Ya ayahku adalah orang pedalaman Papua, sedangkan ibuku asli orang Jawa.

Ekspedisi dimulai. Aku sendirian ke sini. Aku rencananya akan mengeksplor tempat ini. Ya tempat yang sangat indah dan menawan yang terletak di belahan barat Indonesia, lebih tepatnya adalah Riau. 

Konon katanya, di daerah ini adalah salah satu pemroduksi perempuan cantik. Ya selain alamnya yang indah dan menawan, di sini ada banyak cewek cantik yang akan memanjakan mataku. Mungkin aku juga bisa mencari jodoh di sini. 

Aku akan mendirikan tenda untuk dijadikan sebuah penginapan. Mungkin ini terlalu menyedihkan, tapi inilah yang selalu aku lakukan di daerah orang lain. Aku tidak jarang menolak tawaran penduduk lokal yang menawariku sebuah tempat tinggal. Ya aku tidak nyaman jika harus merepotkan seseorang.

Matahari sudah mulai bersinar. Ini tandanya penjelajahanku akan segera dimulai. Mungkin di hari kedua ini akan kujadikan hari yang cukup menyenangkan. Aku akan mengeksplor kegiatan warga setempat yang sepertinya tak kalah seru dengan keadaan di alam sana.

Aku menjumpai seorang wanita cantik yang mungkin mengerjakan sesuatu. Aku menghampirinya. Mungkin ini akan seru

“Permisi. Apakah aku boleh melihat sedikit kegiataan kalian ini?”
“Ya boleh sekali kakak”
“Oh iya namaku Novan. Nama kamu siapa?”
“Namaku Sherly. Aku pengrajin aksesoris seperti gelang dan kalung di sini. Lalu kakak ini berasal dari mana kok kayaknya bukan orang sini ya?”
“Hem iya aku penjelah dari Jawa Timur. Aku ke sini cuma mau melihat keindahan d Riau ini. Aku bukan orang jahat kok”
“Oh kakak ini penjelajah. Makanya kulitnya hitam manis, hehehe”

Aku terdiam setelah wanita yang bernama Sherly itu menyebutku dengan sebutan hitam manis. Ah ternyata wanita di sini selain putih, cantik, dan manis juga pintar merayu. Wah hebat ini.

Setelah beberapa saat, aku meninggalkan wanita yang baru aku kenal itu. Aku terlalu lama mengobrol dengannya. Mumgkin karena dia sangat ramah denganku. Mungkin inilah yang dinamakan tamu adalah raja.

Setelah kejadian itu, aku setiap hari ke rumahnya. Sampai-sampai aku lupa kalau bukan orang sini. Dan aku juga lupa dengan tujuan awalku pergi di sini. Mungkin inilah yang dinamakan cinta lokasi. Ah sepertinya bukan, aku bukan cinta lokasinya, tapi aku cinta dengan orangnya, hehehe.

Setelah sepuluh hari di sini, aku berencana pulang. Ya karena aku sudah terlalu lama di sini. Rencananya di sini cuma satu minggu, tapi malah terlambat tiga hari untuk pulang ke kampung halaman.

Ketika aku akan pulang, aku teringat dengan Sherly. Dia adalah satu-satunya orang yang peduli denganku di sini. Setiap hari aku ke rumahnya, dia selalu memberiku secangkir kopi. Mungkin aku tidak akan menemui wanita seperti itu lagi, apalagi kalau aku pulang ke Jawa Timur.

Ketika akan pulang ke Jawa Timur, aku menyempatkan ke tempat kediaman Sherly. Ya aku berpamitan sekaligus berterimakasih. Matanya sedikit berkaca. Apa dia tidak rela aku pergi. Dan tiba-tiba mulutnya terbuka dan berkata :

“Novan.. Terimakasih ya sudah mampir ke sini. Jangan lupa dengan persahabatan singkat kita ini. Mungkin aku belum lama mengenalmu, tapi aku sudah menganggapmu seperti keluarga dan mungkin bisa lebih dari itu. Sekali lagi terimakasih”
“Hem iya sama-sama, Sherly. Oh iya terimakasih juga karena mau membuatkanku kopi setiap hari. Oh iya kamu punya nomor hp?”
“Hem iya. Nomor hp? Ya tidaklah. Aku ini orang pedalaman, Novan. Jarang yang punya hp di sini. Tapi sebenarnya ada hp kok di rumahku ini, tapi punya bapakku”
“Hem begitu. Kalau gitu ini nomor hpku. Mungkin kau bisa menghubungiku suatu saat. Atau juga bisa mengundangku untuk ke sini di hari besar”
“Hem, iya terimakasih, Novan”
“Aku akan pulang ke Jawa, Sherly”
“Iya cepat pulang. Mungkin keluargamu sudah sangat rindu denganmu. Oh iya, ini aku ada surat untukmu dari bapakku”

Aku menerima surat itu lalu berpamitan dan melambaikan tangan. Mungkin ini terlalu aneh jika aku menerima surat dari bapaknya. Tapi karena aku penasaran, aku membuka surat itu ketika sudah ada di perjalanan. Ya aku sudah ada di atas kapal.

“Novan si Hitam Manis,
Ini bukan surat dari bapakku, tapi ini adalah surat kecil untukmu, si hitam manis. Terimakasih ya sudah mau menemaniku membuat aksesoris. Mungkin hari-hari ini terlalu cepat berlalu. Dan aku juga tidak pandai merangkai kata-kata. Apalagi untuk orang yang aku cintai.

Kau telah mengisi hari-hariku yang sepi, terimakasih ya. Mungkin kau tidak akan menemuiku lagi di sini. Oleh karena itu aku mau jujur, aku mencintaimu, hitam manis. Selamat tinggal ya! Mungkin kamu juga mencintaiku.

TTD,
Sherly”

Terasa melayang tubuhku kala itu. Aku merasa senang sekaligus sedih yang amat mendalam. Aku sebenarnya juga mencintainya, dan ternyata dia juga sama. Ingin rasanya aku kembali ke sana, tapi itu tidak mungkin. Aku sudah berada di atas kapal. Mungkin aku cuma bisa berkata dalam hati, “I Love You too Sherly”.

 Dan inilah yang terjadi padaku. Aku jatuh cinta dengan waktu yang sangat singkat. Dan terlalu singkat untuk kedua insan saling mengerti. Mungkin cerita cintaku ini bisa kuberi judul “Cinta di Pulau Seberang” karena rasa cinta ini masih tertinggal di pulau yang jauh di seberang sana. Dan mungkin aku dan dia tidak akan bertemu lagi.

3 tanggapan untuk “Cinta di Pulau Seberang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *