Dapit – Aku dan Dia Dihukum!

Yang jelas itu bukan nama aslinya. Nama aslinya David, tapi panggilannya Dapit. Ah mungkin itu karena lidah orang Jawa yang tidak biasa mengucapkan huruf ‘v’. Jadi repot juga punya nama seperti David.

David mempunyai rambut yang keriting. Dia itu berkacamata, kulitnya sawo matang, badannya tinggi dan sedikit. Dan karena itulah, dia terlihat berbeda dengan teman-teman sekolahnya.

Dia bukan dari golongan murid sok pintar di kelas. Dia berbicara kalau diperintah, dia diam kalau tiada perintah. Begitulah dia, selalu persis dengan tata tertib yang ada. Sehingga tak jarang dia disebut murid robot berkacamata oleh teman-temannya.

Tapi tak jarang dia juga bersifat layaknya remaja seperti biasanya, terutama ketika ada jam kosong atau lebih sering disingkat jamsong. Ketika jamsong, dia membeli permen tradisional kesukaannya, Gulali.

Entah kenapa dia senang berada di kantin akhir-akhir ini. Entah ketika jamsong maupun ketika istirahat. Yang jelas dia sering melalun bersama dengan gulali dan buku catatan yang selalu dibawanya. Dan asal kamu tahu, Dapit juga bercita-cita menjadi seorang penulis. Jadi ya tidak heran kalau dia juga selalu membawa buku catatan.

“Hey, Dapit. Ngapain kamu kok di sini? Ngelamun lagi!” ucap seorang siswi yang mengagetkan Dapit yang sedang melamun.
“Eh, Dinda. Nganu, aku lagi mencari inspirasi buat lomba cerpen di internet. Ada ide nggak?” tanya Dapit yang sebenarnya sedikit gugup kepada siswi yang bernama Dinda itu.

Dinda segera menyampaikan ide-idenya. Hebat nih Dinda, Dapit langsung mendengarkan apa yang dikatannya. Entah itu karena ide yang disampaikannya bagus, atau mungkin Dapit hanya terhanyut oleh kecantikan Dinda. Semua ini masih misteri. Yang jelas, Dapit gugup. Itu terlihat ketika dia sering mengucapkan kata ‘nganu’.

“Teet.. teet.. ” bunyi klakson yang berada di sepanjang koridor kelas berbunyi dua kali. Dapit dan Dinda masih ada di kantin. Mungkin mereka tidak menyadari kalau ada bel. Dan beberapa menit kemudian, petugas kantin mengingatkan mereka. Dan merekapun tergesa-gesa kembali ke kelas karena sekarang jamnya Bahasa Indonesia, jam di mana ada hukuman untuk setiap murid yang yang terlambat masuk kelas.

Oh tidak, Bu Eka sang guru Bahasa Indonesia sudah masuk kelas. Dapit dan Dinda saling memandang. Tak pernah mereka berdua mendapatkan hukuman seperti yang akan menimpanya beberapa saat lagi. Jangankan mendapatkan hukumannya, membayangkan aja belum pernah.

Dapit dan Dinda masuk ke kelas. Semua murid tertawa karena akan menyaksikan murid polos dan bintang kelas akan dihukum. Dan tanpa basa-basi, Dapit dan Dinda mengambil hukumannya. “Mencium tembok sebanyak 25 kali!” begitulah kata Bu Eka santai sambil memegang buku tebalnya.

Ketika Dapit dan Dinda dihukum, banyak yang mengabadikan kejadian itu. Entah mengabadikannya berupa foto atau video, yang jelas Bu Eka tidak melarangnya.