Masa Depan

Penulis : Moch. David Aji Pangestu
Judul : Masa Depan

Beginilah rasanya jika tinggal di kota yang cukup ramai kendaraan. Nafas terasa sesak karena polusi. Wajah seperti terbakar karena udara yang panas. Aku mulai bosan.

Aku kembali masuk ke rumah. Syukurlah, udara lebih terasa bersih di dalam rumahku yang cukup mewah ini. Tapi aku mulai bosan melihat lukisan di dinding rumahku yang sedikit menyeramkan. Lebih tepatnya ada lukisan yang menggambarkan peristiwa di Perang Dunia II. Aku lalu pergi ke taman belakang.

Kugiring bola itu melewati bangku yang ada di taman. Tak jarang aku melakukan beberapa trik yang dilakukan pemain sepak bolaku di TV. Namun tiba-tiba permainanku terhenti ketika melihat tali berwarna emas menjuntai dari tanah.

Apa ini? Apakah tali yang terhubung dengan peti harta karun? Ah, lebih baik aku tarik saja daripada penasaran. Setalah aku tarik, taman belakangku bergetar. Apa lagi ya tuhan? Apakah aku telah menarik tali yang telah mengkikat taman ini sehingga dapat kokok? Ah itu tak terlalu penting. Yang terpenting aku melihat pusaran cahaya aneh tepat di hadapanku.

Tetapi ketika aku hendak menyentuh cahaya itu, ada sesuatu yang mendorongku sehingga aku masuk ke dalam cahaya itu. Aku merasakan dunia seakan berputar di kepalaku. Terus berputar sampai bayangan hitam menyelimuti kesadaranku.

Ketika aku tersadar, aku sangat takjub dengan apa yang aku lihat. Apa ini di surga? Atau, ini adalah masa depan. Ya banyak orang terbang tanpa menggunakan bantuan alat apapun. Kereta cepat tanpa rel melaju di udara. Dan yang paling mengherankan, orang di sini memakai baju seperti baja. Atau mereka memang robot, entahlah.

Aku mencoba melawan rasa ketakutan dengan rasa penasaran, aku berhasil. Dan saat itu juga aku sadar, pakaiankan sama dengan makhluk yang ada di sini, terlihat seperti baja, tapi sangat ringan.

Kuperhatikan terus baju yang melekat di tubuhku itu. Ada tombol yang berlambangkan sayap, kurasa ini tombol untuk terbang. Dan ah benar, setelah itu aku bisa terbang. Atau lebih tepatnya hilang kendali di udara.

Aku bingung bagaimana mengendalikan semua ini. Kutekan lagi tombol yang sebelumnya, tapi aku tidak bisa turun. Dan pada akhirnya aku menemukan tombol yang membuatku penasaran, letaknya di dada. Mungki ini, pikirku. Aku menekan tombol itu satu kali, tidak ada reaksi, dua kali, tetap sama seperti sebelumnya, dan ketiga kalinya, tubuhku terguncang hebat sampai-sampai aku jatuh ke tanah dan tak sadarkan diri.

Ketika aku sadarkan diri, tubuhku seperti terlahir kembali. Badanku terasa lebih segar, panca inderaku terasa semakin tajam. Tapi yang kusayangkan, aku berada di taman belakangku, bukan di masa depan di mana aku bisa terbang. Aku kebingungan.

Aku mencari tali emas itu supata aku bisa kembali ke masa depan itu. Kupikir, tidak ada salahnya aku kembali ke sana dan menetap untuk hanya sekedar belajar terbang seperti robot. Tapi itu mustahil, aku tidak menemukan tali emasnya.

Sejak saat itu aku menghabiskan waktu luangku untuk mencari tali emas demi bisa pergi ke masa depan. Tapi sekali lagi, aku tidak bisa menemukannya. Apa waktu itu aku bermimpi? Kurasa tidak, karena semuanya terlihat begitu nyata.

3 tanggapan untuk “Masa Depan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *