Peri Kebun Teh

Penulis : Moch. David Aji Pangestu
Judul : Peri Kebun Teh

Matanya merah seperti terkena bawang ketika dia bangun pagi ini. Di saat embun pagi masih berkeliaran, dia melanjutkan kegiatannya dengan mandi pagi. Ya masih dingin sebenarnya.

Badannya sedikit menggingil, tapi sudah tampak lebih segar dari sebelumnya. Rencananya dia akan pergi ke rumah neneknya untuk menikmati liburan akhir tahun. Ini akan menjadi liburan yang menyenangkan, pikirnya. Ya rumah nenek adalah tempat paling indah yang akan memanjakan matanya.

“Bu.. Ayo berangkat, keburu siang nih.” gerutunya tidak sabar.
“Bentar, David sayang. Ibu masih memasukkan bajumu ke dalam tas. Apa kamu mau tidak ganti baju selama di rumah nenek?” jawab ibunya sedikit ketus.
“Hem.. Cepat ya bu. Aku gak sabar pingin ke desa yang indah itu.” David nampaknya sudah tidak begitu sabar menunggu mamanya.

Sungguh sangat disayangkan ayahnya tidak bisa ikut. Ya ayahnya memang selalu sibuk. Masih banyak pesanan yang menumpuk. Dan oleh karena itu di rumahnya banya kayu yang menimbun tinggi. Hem, yang penting ayah banyak uang, pikir David dengan wajah polosnya.

David berangkat bersama ibunya menggunakan mobil berwarna biru tosca yang mengkilap. Ya semoga saja mobil itu tidak tergores oleh lumpur ketika sampai di pedesaan.

***

Neneknya tahu kalau cucu tercintanya akan datang. Cemilan kesukaan David sudah tertat rapi di meja. Ya ini memang betul, David suka makan cemilan. Tapi itu tidak kelihatan, karena tubuhnya tetap kecil namun cukup tinggi. Bahkan menyamai tinggi ayahnya yang cukup proporsional jika ingin menjadi model.

“Tiin..tiinn..” suara bel mobil mewah berbunnyi dari depan rumah nenek itu.
“Oh cucuku… ” teriak nenek sambil menghampiri cucunya dan langsung memeluk David.
“Hem.. Iya nek. Sudah lama menunggu kedatangan kami nek?” tanya David sambil melepaskan pelukan itu.
“Iya cu.. Ayo cepat masuk. Di sini cukup panas.”
Lalu mereka semua masuk ke rumah yang kelihatannya lebih tepat disebut rumah adat Jawa.

Nenek mempersilahkan tamu istimewanya itu untuk makan cemilan yang sudah ada di atas meja. Sungguh, David suka makan cemilan itu. Setelah makan cukup banyak, David tidur. Ya waktunya tidur siang.

Sedangkan nenek dan ibunya masih mengobrol di ruang tamu. Nenek lebih banyak bertanya daripada ibunya. Dia menanyakan tentang semua tentang David. Apakah David mendapatkan juara kelas, apakah David punya teman baik, dan bahkan menanyakan apakah David musuh di sekolahnya.

David terbangun, masih jam tiga pikirnya. David mencuci muka dan berencana pergi ke kebun teh milik neneknya. Cukup luas untuk David berguling seratus putaran.

“Nek, aku mau ke kebun teh. Boleh kan?” tanya David dengan ekspresi berharap.
“Hem, ya boleh lah. Tapi mungkin tidak ada yang menemanimu di sana. Ya karena kebanyakan penduduk di sini sudah tua seperti nenekmu ini” jawab neneknya yang sedikit gelisah.
David menganggung tanda mengerti. Tidak apa-apa dia tidak teman. Yang penting dia bisa menghirup udara segar.

David berjalan perlahan sambil menikmati udara sore yang menyejukkan. Ketika dia duduk di sekitar kebun neneknya, ada seseorang datang.

“Halo, kamu bukan anak sini ya?” tanya seorang gadis yang sepertinya masih seumurannya.
“Hem iya. Nah kamu kenapa ada di kebun seperti ini?” tanya David heran.
“Aku cuma ingin menghirup udara segar saja. Namaku Widiansa. Bisa kau panggil Widi. Dan namamu siapa?” tanya gadis itu dengan nada agak cepat tapi jelas.
“Namaku David Aji. Dipanggil David juga boleh.” jawab David dengan ekspresi bahagia.
“Kita ke gubuk itu yuk. Di sana suasananya lebih enak.” ucap Widi sembari menarik tangan David.

Lalu mereka mengobrol di gubuk itu. David lebih banyak bercerita tentang kehidupan di kota. Dan sesekali David juga bertanya tentang Widi. Bahkan David juga tahu, Widi menyukai warna hijau keemasan yang menyala seperti kunang-kunang. Menurut David, warna itu juga sangat indah.

Langit hampir gelap. Mereka berdua saling berpamitan. David berjanji akan menemuinya lagi besok sore. David senang bisa punya teman di sini. Dia -Widi- gadis yang baik, ramah, dan sangat manis.

David pulang dengan wajah gembira. David juga langsung mengajukan pertanyaan kepada neneknya.

“Nek, apakah di sini ada gadis bernama Widi yang usianya sebayaku?” tanya David memastikan.
“Iya gadis itu memang ada. Tapi..”
Tapi tiba-tiba ibu berteriak memotong pembicarannya dengan sang nenek “Nak, cepat mandi! Hari sudah mulai gelap, nanti kau bisa kedinginan,”

Lalu David pergi ke kamar mandi. Huh, ternyata sudah sangat dingin, pikir David dalam hati. Setelah keluar dengan badan yang agak menggigil, dia lanjut dengan menonton acara TV. Dan sampai akhirnya matanya terpej sehingga bukan David yang menonton TV, tapi TV yang menonton David.

Dan keesokan harinya dan hari-hari selanjutnya, David selalu ke kebum teh bertemu dengan teman barunya, Widi. Sepertinya mereka mempunyai ketertarikan tertentu.

Sore demi sore mereka lewati bersama. Semuanya berjalan dengan canda tawa. Dan ketika sore terakhir mereka bertemu, mereka berdua keliahatan sedih.

“David, aku akan berpisah denganmu, begitu juga sebaliknya. Apakah kau akan mau bermain denganku lagi suatu saat?” tanya Widi dengan air mata yang sudah hampir menetes.
“Aku akan senang sekali jika suatu saat bisa bermain denganmu lagi” jawab David dengan mata yang juga berkaca-kaca.
“Tapi, aku punya rahasia besar. Dan sebentar lagi tidak akan menjadi rahasia karena ingin kukatakan padamu,” ucap Widi sedikit gelisah.
“Memang apa, Widi? Rahasia besar ya..” jawab David kebingungan.
“Aku bukan manusia. Aku adalah peri yang menjaga kebun ini. Wujudku seperti kunang-kunang jika malam hari. Dan kau lihat, sayapku sudah keluar kalau sudah hampir malam,” ucap Widi dengan melihatkan sayapnya.
David terdiam, terpaku, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Lalu Widi terbang mengucapkan sesuatu kepada teman barunya itu.
“David, selamat tinggal. Aku akan sangat merindukanmu nanti. Kalau aku manusia, mungkin aku bisa ikut denganmu. Tapi aku adalah peri. Dan semua orang di sini tahu itu. Selamat tinggal sekali lagi, David. Aku menyayangimu.”

Widi melambaikan tangannya yang kelihatan seperi menyala. Padahal itu nyala dari tubuhnya.
Dan David juga ikut melambaikan tangan walaupun agak gemetar.
Lalu dia pulang ke rumah neneknya tanpa bercerita apapun. Keesokannya dia hendak pulang ke rumahnya, di kota.

4 tanggapan untuk “Peri Kebun Teh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *