Kamu, Bisa Apa?

Semilir angin malam menembus tulang rusukku. Dingin. Sangatlah dingin. Tapi tak sebanding dengan dinginnya sifatmu padaku. Padahal aku berharap kau adalah tulang rusukku yang telah lama hilang.

Ingin aku mengajakmu liburan. Menikmati panasnya pantai bersama. Tapi, aku tidak punya cukup uang untuk itu. Namun mungkin aku bisa mengajakmu menikmati dinginnya gunung dekat rumahku. Ah, jangan. Hubungan ini cukup membuatku kedinginan. Apa aku kuat?

Mungkin aku bisa berbelok sejenak ke rumahmu ketika mengayuh sepedaku. Aku bisa mengobrol denganmu sambil menikmati minum yang kau suguhkan. Tapi, nyatanya itu hanya ekspetasi. Aku tidak punya apapun yang layak untuk menemuimu.

Dan akhirnya aku melihat refleksiku di cermin. Aku biasa saja. Tak ada yang menarik dariku. Aku tidak punya apa-apa. Dan yang pasti aku jauh dari kata sempurna. Tapi percayalah, aku mencintaimu dengan cara yang sempurna. Kamu bisa apa?

Akhir dari semua cerita, aku mengurung di kamar pada liburan kali ini. Menikmati gravitasi manja dari ranjang terbuat dari bambu belakang rumahku. Aku cuma putra tidur. Tapi percayalah, di atas ranjangku ini gambaran tentangmu selalu tertulis di dalam rajutan puisi indah yang kubuat. Lalu, kamu bisa apa?

Satu tanggapan untuk “Kamu, Bisa Apa?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *